GUNUNG TANGKUBAN PARAHU TEMPO DULU
Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.
Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda aktivitas gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunungnya, di antaranya adalah di kasawan Ciater, Subang.
Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda aktivitas gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunungnya, di antaranya adalah di kasawan Ciater, Subang.
![]() |
PEREMPUAN DI BANDUNG SEDANG MENENUN KAIN FOTO DIBUAT TAHUN 1934 |
Foto perempuan di sebuah desa di Bandung sedang menenun kain sarung dengan alat tradisional dengan benang yang masih tergulung di alat pemintal benang.
Pekerjaan menenun pada saat itu biasa dilakukan di teras rumah atau golodog (teras rumah panggung) karena pada umumnya rumah di Priangan merupakan rumah panggung.
PETERNAKAN SAPI DI DAERAH BOJONG WARU
PANGALENGAN TEMPO DULU
Johan Gerrit van Ham mulai membuka lahan usaha peternakannya di daerah Bojong Waru kira-kira tahun 1912. dari peteranakannya itu dia membuka pabrik roti (Bakkerij) dengan susu sebagai salah satu bahannya dan usaha pemotongan hewan (Slagerij).
Labels:
Bandung Tempo Dulu





