• Naskah Sunda Kuno - Batara Kala




    Ringkasan Isi:
    Keadaan di Sorgaloka kacau balau akibat ulah seorang putri di bumi bernama Dewi Tanara melakukan Tapabrata di Gunung Marabu. Dewi Tanara ingin bersuamikan seseorang yang suka disembah tetapi tidak diberi kewajiban untuk menyembah. Turunlah Batara Guru dari Sorgaloka karena merasa bahwa dirinyalah yang dimaksudkan oleh Dewi Tanara.

    Batara Guru berubah wujud menjadi seorang raksasa ketika mengejar-ngejar Dewi Tanara karena melihat paha Dewi Tanara raksasa terjatuh dan meneteskan sperma sehingga jatuh ke tanah. Raksasa sadar bahwa ia adalah Batara Guru dan berjanji tidak akan mengejar-ngejar lagi asal wujudnya dikembalikan ke wujud semula. Saat itu juga Batara Guru kembali dari wujud raksasa ke wujud semula. Kemudian Batara Guru pulang ke Sorgaloka sedangkan Dewi Tanara kembali ke negerinya. Keadaan di Sorgaloka kembali tenteram, Batara Narada disuruh Batara Guru untuk mengamankan spermanya yang jatuh ke tanah, akan tetapi setelah sperma itu dibuang ke laut malah menjelma menjadi seorang raksasa yang bernama Batara Kala.

    Batara Kala diberitahu oleh Semar bahwa Batara Guru adalah ayahnya. Pergilah Batara Kala ke negeri Sorgaloka menjumpai Batara Guru dan minta makanan dari jenis daging manusia. Batara Guru mengabulkan permintaannya dengan syarat hanya beberapa dari jenis daging manusia diantaranya ialah orang yang berstatus anak tunggal, orang yang berstatus kadana kadini (hanya bersaudara kakak beradik laki-laki dan perempuan atau perempuan dan laki-laki), orang yang berstatus nanggung bugang (kakak dan adik meninggal dunia), orang yang berstatus anak mungku (hanya tiga bersaudara dua perempuan satu laki-laki atau sebaliknya), orang-oarang yang dilahirkan pada waktu malam hari, orang-orang yang bepergian pada waktu maghrib, akan tetapi batara Guru memberikan larangan bahwa orang yang sedang berada di arena pagelaran wayang, tidak boleh dimakan.

    Orang-orang di bumi kalang kabut, takut kepada Batara Kala, Batara Guru bingung memikirkan nasib manusia di bumi yang ketakutan kepada Batara Kala dan mungkin akan habis dimakan olehnya. Maka turunlah Batara Guru dengan rombongannya ke bumi menyamar menjadi kelompok penabuh wayang. Batara Guru sendiri menjadi dalangnya, dengan sebutan dayang Longlongan.


    Kondisi Naskah:
    Kecamatan : Sukawening
    Nama Pemegang naskah : Adang
    Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
    Asal naskah : warisan
    Ukuran naskah : 17 x 22 cm
    Ruang tulisan : 13 x 16 cm
    Keadaan naskah : tidak utuh
    Tebal naskah : 32 Halaman
    Jumlah baris per halaman : 14 baris
    Jumlah baris halaman awal dan akhir : -
    Huruf : Arab/Pegon
    Ukuran huruf : sedang
    Warna tinta : hitam
    Bekas pena : tumpul
    Pemakaian tanda baca : ada
    Kejelasan tulisan : jelas
    Bahan naskah : kertas tidak bergaris
    Cap kertas : tidak ada
    Warna kertas : kecoklat-coklatan
    Keadaan kertas : tipis agak halus
    Cara penulisan : timbal balik
    Bentuk karangan : puisi
    Labels: Naskah Kuno, Sejarah
    Back To Top